Jumat, 13 Desember 2013

Tragedi Situ Gintung




Peristiwa terjadinya jebol tanggul situ gintung pada 2009 mengingatkan kita kembali akan pilu yang dialami oleh korban. Perubahan cuaca yang terjadi belakangan ini dengan curah hujan yang deras pada setiap sore berlangsung setiap harinya diperkirakan jebolnya situ gintung Jilid II.


Indonesia merupakan Negara dengan 2 musim yaitu kemarau (april-september) dan hujan (oktober-maret). Bulan November ialah bulan pengmusim hujan. Lamanya musim pancaroba yang terjadi dengan situasi pada siang hari dengan cuaca panas dan sore menjelang malam perubahan cuaca menjadi mendung lalu hujan besar (deras).

Hujan deras yang terjadi belakangan ini dan puncaknya pada Kamis (22/11) lalu merupakan puncak terjadinya hujan deras sehingga ketinggian air yang menggenangi gintung hampi terluap kepermukaan. Derasnya hujan setiap hari apabila dengan rata-rata cuaca hujan yang tinggi dapat diperkirakan di kemudian hari akan terjadi kembali peristiwa jebolnya tanggul situ gintung.

Terlantarnya jumlah korban tewas pada peristiwa itu yang hanya ditempatkan di atas aspal parkiran FISIP juga terendamnya gedung fisip hingga pada madding pengumuman kegiatan akademik menjadi pilu derita yang harus dialami dan dilihat mahasiswa FISIP pada kegiatan itu. Berbagai lembaga internal maupun eksternal kampus juga Unit KegiatanMahasiswa (UKM) turun tangan menjadi sukarelawan untuk membantu secara langsung.

Pasca kejadian diperlukan waktu lama untuk membenahi diri dari luka perih korban dan pengembalian sarana-prasarana di rumah warga sekitar situ gintung. Monumen Kenangan didirikan dekat tanggul situ gintung untuk mengenang peristiwa jebolnya tanggul situ gintung.

FISIP merupakan fakultas dalam UMJ berada di bagian bawah dataran dan terletak di samping sungai kecil akan menjadi fakultas yang terkena dampak kerugian besar bila bencana ini terjadi kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar