Peristiwa terjadinya jebol tanggul situ gintung pada 2009 mengingatkan kita
kembali akan pilu yang dialami oleh korban. Perubahan cuaca yang terjadi belakangan
ini dengan curah hujan yang deras pada setiap sore berlangsung setiap harinya diperkirakan
jebolnya situ gintung Jilid II.
Indonesia merupakan Negara dengan
2 musim yaitu kemarau (april-september) dan hujan (oktober-maret). Bulan
November ialah bulan pengmusim hujan. Lamanya musim pancaroba yang terjadi dengan
situasi pada siang hari dengan cuaca panas dan sore menjelang malam perubahan cuaca
menjadi mendung lalu hujan besar (deras).
Hujan deras yang terjadi belakangan
ini dan puncaknya pada Kamis (22/11) lalu merupakan puncak terjadinya hujan deras
sehingga ketinggian air yang menggenangi gintung hampi terluap kepermukaan. Derasnya
hujan setiap hari apabila dengan rata-rata cuaca hujan yang tinggi dapat diperkirakan
di kemudian hari akan terjadi kembali peristiwa jebolnya tanggul situ gintung.
Terlantarnya jumlah korban tewas pada
peristiwa itu yang hanya ditempatkan di atas aspal parkiran FISIP juga terendamnya
gedung fisip hingga pada madding pengumuman kegiatan akademik menjadi pilu derita
yang harus dialami dan dilihat mahasiswa FISIP pada kegiatan itu. Berbagai lembaga
internal maupun eksternal kampus juga Unit KegiatanMahasiswa (UKM) turun tangan
menjadi sukarelawan untuk membantu secara langsung.
Pasca kejadian diperlukan waktu
lama untuk membenahi diri dari luka perih korban dan pengembalian sarana-prasarana
di rumah warga sekitar situ gintung. Monumen Kenangan didirikan dekat tanggul
situ gintung untuk mengenang peristiwa jebolnya tanggul situ gintung.
FISIP merupakan fakultas dalam
UMJ berada di bagian bawah dataran dan terletak di samping sungai kecil akan menjadi
fakultas yang terkena dampak kerugian besar bila bencana ini
terjadi kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar